Orientasi Pendidikan Mahasiswa Baru Pascasarjana Universitas Brawijaya TA 2019/2020

Setahun sudah UB melakukan berbagai upaya untuk menangkal radikalisme yang sempat marak sebagaimana disinyalir BNPT pada bulan Mei 2018. Upaya tersebut dilakukan secara lebih progresif sejak kepemimpinan Prof. Nufil Hanani, MS mulai dari menggandeng tokoh2 agama moderat dan toleran dalam kegiatan keagamaan, hingga pelibatan ormas dan OKP moderat dalam dinamika kemahasiswaan.
Salah satu ujung tombak upaya ini adalah penguatan Mata Kuliah Umum terkait Pancasila, keagamaan dan wawasan kebangsaan.
Upaya tersebut masih terus dilakukan hingga hari ini, dalam Ordik mahasiswa Pascasarjana se-UB yang diadakan pada hari Jumat (16/8/2019). Penegasan tentang visi Kebangsaan pun kembali didengungkan. Momentum ini juga sangat tepat sebab hari ini bertepatan dengan peringatan Kemerdekaan RI ke 74.
Prof Rhenald Kasali, PhD. sebagai keynote speaker dalam acara ini tidak hanya sekedar seorang pakar manajemen, akan tetapi juga tokoh penting yang mampu memotret secara utuh fenomena disrupsi global yang serba takpasti, termasuk daya tahan sendi kultural bangsa dalam menghadapinya. Prof Rhenald adalah tokoh bangsa yang dikenal dengan gagasan2 kebangsaan pluralis yang tak hanya komprehensif tetapi juga operasional.
Polarisasi politik yang terjadi saat pilpres lalu makin mempertajam kualitas bangsa, tak terkecuali kalangan sivitas akademik negeri ini, termasuk di UB. Jika terkelola dengan baik, maka dualitas tersebut akan makin memacu kompetisi positif sehingga dapat memantik kreativitas anak bangsa untuk memunculkan ide-ide cemerlang. Akan tetapi, jika tak terkelola maka dualitas tersebut justru akan merapuhkan sendi2 kohesif kebangsaan yg akan membuat bangsa ini tak tangguh menghadapi disrupsi.
Kehadiran Prof Rhenald diharapkan dapat menginspirasi bagaimana UB dapat mentransformasi polarisasi aspirasi insan akademik, menjadi sebuah kompetisi gagasan yang sehat dan produktif demi kemajuan bangsa. Harapannya, dengan adanya nuansa diskursif yang berorientasi pada penguatan sendi kebangsaan tersebut maka paham radikalisme akan luruh seiring dengan maraknya kontestasi inovasi dari anak-anak bangsa, termasuk 1.803 mahasiswa pascasarjana di Universitas Brawijaya.