Ditulis pada tanggal 3 April 2018, oleh admin, pada kategori Berita

Dalam upaya untuk meningkatkan kualitas publikasi ilmiah terutama dalam bidang kajian keagamaan, Universitas Islam Malang (UNISMA) tengah menggelar Konferensi Internasional dalam tema Islam Nusantara, Integritas Nasional dan Perdamaian Dunia.  Melalui judul Islam Nusantara: Mensinergikan Spirit Persaudaraan Feminis dan Ideologi Maskulin ke dalam Persatuan Nasional, konferensi ini menghadirkan pembicara dari Indonesia dan mancanegara, diantaranya Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE. (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta); Prof. Dr. KH. Tolhah Hasan (UNISMA); Dr. Adam Bin H. Jait (Brunei Darussalam); Prof. Dr. KH. Said Agil Siradj, M.A (Ketua Umum PBNU); Dr. H. Abdullah Sagran (Timor Leste); Mrs. Ursula, Mc.Lackland (Secretary General of Universal Peace Federation Asia), pada Rabu hingga Kamis (28-29/3/2018) lalu.

Konferensi dihadiri kurang lebih 750 partisipan dari seluruh Rektor Universitas NU se-Indonesia dan Mahasiswa berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia, Brunai Darussalam, dan Timor Leste. Dari 750 partisipan, 40 orang diantaranya adalah  presenter yang membawakan hasil penelitian dalam paper di sesi presentasi pararel.  Konferensi ini bertujuan untuk diperolehnya konsep yang semakin matang dan mendalam mengenai Islam Nusantara, selain itu juga bertujuan untuk berbagi pengalaman dan ilmu mengenai konsep dan praktik hidup beragama di Timor Leste dan Brunai Darussalam.

Melalui judul Islam Nusantara: Melting the Feminist Sisterhood and Masculinity Belief into National Integrity , Faridatus Sholihah, mahasiswi Program Magister Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Brawijaya yang berkesempatan menjadi presenter, menyampaikan Islam Nusantara hadir dengan membawa lima prinsip dasar yang digunakan untuk mensinergikan titik temu antara ideologi feminis dan ideologi maskulin.

“Ada lima prinsip dasar, diantaranya Tidak ada diskriminas, Menghormati Hak Asasi Manusia, Rohmatan Lil Alamin, Merawat kearifan budaya lokal, dan Mengamalkan Pancasila,” Ujarnya

Semua manusia, tambah Faridatus, harus menyadari bahwa kunci dari integritas nasional adalah saling memahami dan menghargai. Dua hal tersebut adalah pondasi utama dari lima prinsip Islam Nusantara. Islam Nusantara merupakan asset nilai Negara  yang harus dikembangkan sebagai instrumen pemersatu Bangsa, terutama dalam bidang keberagaman ideologi gender.